Awalnya, aku ingin memenuhi ajakan bercakap-cakap di perlagaan pikiran secara senyap. Bagai gawai yang disenyapkan. Khususnya, kepada Daeng Gappa. Perkaranya, sederhana saja. Ia sementara wara-wiri menaklukan negerinya, Bantaeng, lewat ajang silaturahmi secara konsisten dan persisten. Ditemani Daeng Dunding, menandangi keluarga dan kawan-kawan lamanya. Masih sebatas appalappasa nakku , memecahkan celengan rindu. Namun, tidak dengan Daeng Litere. Ia melengket laik perangko pada diriku. Mungkin karena perwujudan lahir batin nyaris identik. Sehingga ia begitu mudah mencium rencana-rencanaku. Maka ketika ia menjapriku soal jadi tidaknya menunaikan undangan persilatan minda, aku langsung saja mengajaknya. Namun, sederet syarat kuajukan. Aku minta ia mengendalikan motor dan menulis satu esai sebagai penanda buah perlagaan gagasan. Daeng Litere pun setuju dengan permintaanku. Satu bentuk transaksi yang boleh jadi, garib bagi sebagian orang. Aku bagai bos, difasilitasi oleh Daeng Litere h...